AAC merupakan fenomena. Baik novel maupun film-nya. Sampai hari ini penontonnya telah lebih dari 3,5 juta. Namun seperti biasa, semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang menerpanya. Komentar pun bermacam-macam, ada yang berkata mendiskreditkan agama tertentu dan bahkan ada yang berkata membungkus poligami dengan bahasa halus.Menurut saya, film AAC tidak mendiskreditkan agama tertentu. Dalam novel AAC, jelas terlihat bahwa Novel-nya Islami banget, dan tentu saja umat Islam hanyak meyakini bahwa agama Islam-lah agama yang benar (hal ini berlaku untuk semua agama). Dan cerita dalam AAC sama sekali tidak mendiskreditkan agama tertentu. Jika perpindahan agama Maria menjadi sebab pernyataan tersebut, menurut saya sangat naif. Karena di kehidupan nyata, banyak orang yang pindah agama dari A ke B, dari B ke C dan seterusnya.
Bukankah negara kita negara Demokrasi ?
Bukankah setiap orang bebas untuk memeluk agama apa saja yang dia suka ?
Bukankah para pemrotes itu juga yang sering kali menerikkan kata-kata demokrasi ?
Mengenai pernyataan legatimasi poligami yang dibungkus dengan bahasa halus menurut saya tidak tepat. Karena poligami adalah sesuatu hal yang boleh-boleh saja dalam kondisi tertentu.
Sudahlah, lupakan saja kritik mereka.
Mari kita lihat mengapa Film AAC banyak disukai penonton
Saya melihat Film AAC disukai banyak penonton karena
- Romantisme cinta dikemas dengan sangat baik dan sangat unik. Tidak seperti film/sinetron saat ini yang mengindentikkan cinta dengan ciuman, peluk-pelukan dan gandeng-gandengan tangan antara pria dan wanita yang bukan muhrim-nya
- Sosok Fahri yang kuat, berwibawa, cerdas dan memiliki prinsip keagamaan yang kuat
- Sosok wanita-wanita disisi Fahri yang tegar membela Fahri dan mampu menjaga kesucian dirinya (walaupun ada yang sempat ditolak Fahri)
- Gaya bahasa yang digunakan halus dan memiliki nilai sastra (mungkin juga karena beberapa hal dikutip dari Al-Qur’an dan Hadist yang memang memiliki nilai sastra tinggi)
- Penulis cerita mengetahui seluk-beluk yang diceritakannya
- Cerita ini mampu menunjukkan keindahan Islam
Mungkinkah cerita AAC ini sebagai salah satu parameter dimana Muslim indonesia “sebenarnya” merindukan kehidupan “Islam” di negara kita ?