Daily Activities

Teroris VS Koruptor

Semenjak terjadinya peledakan WTC & Pentagon yang diduga dilakukan oleh Teroris, seluruh mata dunia dan juga mata Indonesia terpaku pada kata-kata Teroris.

Saya tidak akan membahan masalah terorisme di luar negeri -khususnya- Amerika Serikat, karena sampai dengan saat ini masih tidak masuk ke logika saya, bagaimana mungkin tempat yang katanya teraman di dunia (Pentagon) bisa di tabrak pesawat. Dan juga masih tidak masuk di logika saya, bagaimana mungkin pesawat penumpang yang menabrak WTC tidak memiliki jendela ?

Saya mencoba fokus dengan permasalahan di Indonesia.
Jika dirunut, terorisme di Indonesia -yang of course- dikaitkan dengan groupnya Noordin M Top, adalah sebagai berikut
– Bom Bali I pada tahun 2002 yang mengakibatkan 202 orang meninggal dunia dan 209 orang luka-luka
– Bom JW Marriot tahun 2003 yang menewaskan 11 orang dan 152 orang luka-luka
– Bom Kedubes Australia 2004 yang menewaskan 5 orang dan ratusan luka-luka
– Bom Bali II pada tahun 2005 yang menewaskan 22 orang dan 102 orang luka-luka
– Bom JW Marriot tahun 2009 yang menewaskan 9 orang dan 50 orang luka-luka

Kalau mau dilihat dari efek-nya, efek teorisme memang besar, yaitu efek keamanan Indonesia di mata dunia dan of course korban jiwa. Kalau dihitung-hitung, korban jiwa akibat kasus terorisme di Indonesia 249 orang meninggal dan let saya sekitar 700 orang terluka
Namun ada baiknya kita juga berimbang dalam melihat masalah, ternyata di Indonesia banyak masalah yang lebih besar dari sekedar “Terorisme” yang sekedar untuk mendefinisikannya pun, United Nations masih belum menemukan kata sepakat. Karena pada saat pembahasan mengenai teroris dan terorisme, Amerika Serikat menggunakan Veto-nya, karena dianggap bisa mengancam eksistensi Israel.

Hush, back to focus yang di Indonesia saja.

Di Indonesia, masalah utama yang kita hadapi sebenarnya bukan terorisme, tapi kemiskinan. Masyarakat miskin, akan semakin mudah terbujuk untuk melakukan tindakan anarkis. Sebut aja kasus kerusuhan di Indonesia yang menelan korban jiwa lebih banyak dari terorisme. Sebut saja kasus kerusuhan May, Kasus poso dan ambon yang mengakibatkan terbunuhnya 2800 orang muslim dan 200 orang dari pihak kristen dan kasus-kasus lain.

Kalau dilihat, hal ini karena ketidakadilan pemerintah yang menurut saya, ketidakadilan pemerintah salah satunya disebabkan oleh adanya “aliran uang” ke beberapa pejabat. Aliran uang ke beberapa pejabat, biasanya berasal dari pengusaha. Kalau diperhatikan, beberapa pejabat rakus di Indonesia sangat melindungi pengusaha dan koruptor.

Koruptor yang berada di Indonesia sangat terlihat sebagai orang terhormat, of course naik turun mobil mewah seperti BMW dan Mercy jauh lebih dihargai dibanding Amrozy yang pakai celana ngatung.
Tapi, bisakah kita mengukur efek dari adanya tindakan korupsi di Indonsia.

Berikut saya ambil sample dari beberapa tindakan korupsi di Indonesia
– Kasus Eddy Tansil
Eddy Tansil alias Tan Tjoe Hong alias Tan Tju Fuan adalah seorang pelaku korupsi senilai 1,3 Trilyun pada tahun 1996 ( http://www.tempo.co.id/ang/har/1996/960509_2.htm )

Eddy Tansil

– Kasus bobolnya BNI senilai 1,7 T
Kasus ini melibatkan Adrian Herling Waworuntu yang melakukan korupsi senilai 1,7 Trilyun

Adrian Herling Waworuntu

– Kasus Bank Century 6,7 Trilyun
Kasus ini melibatkan mantan pemilik Bank Century, Rober Tantular yang cuman dipenjara 4 tahun. Itu pun dipenjara saya yakin masih bisa jalan-jalan ke Singapore, atau kalau bosen, mungkin bisa minta “teman” dipenjara. Dan dari kasus ini pun menyeret nama Anggoro Widjojo dan Anggodo Widjojo

Robert Tantular

Anggoro Widjojo

Anggodo Widjojo

Hmmm, dari 3 kasus itu saja negara sudah dirugikan sekitar 10 Trilyun, belum lagi kasus yang lain dan 10 Trilyun itupun belum memperhitungkan inflasi yang terjadi pada tahun 1996 dan 2004.
Tapi untuk memudahkan perhitungan, kita abaikan saja inflasi, jadi, kita hitung flat saja negara rugi sekitar 10 Trilyun.

Dengan perhitungan tahun 2009, coba kita lihat APBN 2009 untuk dana pendidikan dan kesehatan.
Pada tahun 2009 diperkirakan penduduk Indonesia sebanyak 231 juta orang ( http://www.kontan.co.id/index.php/nasional/news/20031/Jumlah-Penduduk-Indonesia-Mencapai-231-Juta-Orang )
APBN 2009 untuk pendidikan sekitar 207 Trilyun ( http://www.anggaran.depkeu.go.id/web-content-list.asp?ContentId=565 ), anggaran APBN 2009 untuk kesehatan adalah 2,8% dari total APBN ( http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/06/03445334/anggaran.kesehatan.jauh.dari.standar ), atau sekitar 28 Trilyun.

Untuk anggaran kesehatan, maka setiap per-kepala di Indonesia diperkirakan akan mendapatkan sekitar 28 T/231 juta penduduk = Rp. 121.212 per tahun (itu pun kita masih mengasumsikan anggaran kesehatan murni untuk penduduk dan bukan pembangunan infrastruktur)

Untuk anggaran pendidikan, jika kita asumsikan jumlah penduduk usia sekolah + tenaga pendidik adalah sekitar 20% dari jumlah penduduk, maka untuk tiap individu akan mendapat anggaran sebesar 207 T / (20% x 231 juta) = Rp 4.480.519.48 per tahun (itu pun kita masih mengasumsikan anggaran pendidikan murni untuk individu dan bukan pembangunan infrastruktur)

Dengan dana 10 Trilyun, maka seharusnya kita mampu membiayai sebanyak 2.231.884 individu untuk sekolah dan/atau sebanyak 82.500.082 penduduk yang bisa dicover oleh anggaran kesehatan.

Dari perhitungan yang simplified diatas, artinya, dari tiga kasus korupsi saja sudah bisa membuat 2.231.884 kehilangan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, dan itu artinya akan ada sebanyak 2.231.884 yang akan sebagai un-educated person dan otomatis ada 2.231.884 yang nantinya akan membentuk generasi yang sama sepertinya dan akan membentuk calon-calon penduduk miskin.

Dan dalam bidang kesehatan, artinya ada 82.500.082 penduduk Indonesia yang tidak mendapatkan fasilitas kesehatan yang baik. Artinya jika ke 82.500.082 orang tersebut sakit, maka ke-82.500.082 jiwanya pun akan terancam kematian. Contoh-contoh udah sering kita lihat dan dengan dengar di media massa.

So, lebih sadis mana koruptor atau teroris ?

Kenapa juga koruptor hanya dipenjara 4 tahun ? Kenapa tidak kita tuntut agar koruptor dihukum mati saja ? Bila perlu dihukum mati sekaligus dengan keluarganya ?

Kira-kira apakah pemerintah kita berani seperti yang melakukan lakukan pada “teroris” ?

Advertisements

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Archives

Twitter Updates

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

%d bloggers like this: